Rabu, 16 Mei 2012


I.     PENDAHULUAN



1.1.  Latar Belakang
Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya. Bila sel-sel dilarutkan dalam suatu cairan yang berbeda konsentrasi garamnya, atau jika sel-sel membengkak karena proses difusi atau osmosa, maka haemoglobin akan lepas dan darah menjadi tembus cahaya. Sedangkan bila sel-sel darah dimasukkan kedalam suatu cairan yang lain yang hypertonis atau hypotonis terhadap cairan intra seluler, maka terjadi proses osmosa dan difusi.
Cara ikan mengambil/mendapatkan makanan dari alam lingkungan disekitarnya sangat bervariasi yaitu tergantung kepada ukuran/umur ikan, spesies ikan dan sifat ikannya. Karena ada beberapa jenis ikan dalam mendapatkan makanan berupaya memburu mangsa, mencari makanannya dan ada juga dengan cara menghisap dan menyaring makanan.

1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan yaitu agar mahasiswa tahu bentuk darah dan dapat menghitungnya dengan sangat teliti. 
Adapun manfaatnya kita dapat mengetahui bagaimana bentuk sel darah merah dan sel darah putih pada ikan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


            Ikan, sebagaimana vertebrata lain, memiliki sel darah merah (eritrosit) berinti dengan bentuk dan ukuran bervariasi antara satu spesies dengan lainnya. Elasmobransi dan hagfish memiliki sel darah merah yang besar, kira-kira 19,7 mm x 13,9 mm. (Hartman dan Lessler 1964 dalam Satchell, 1991). Beberapa spesies yang lain memiliki sel darah merah berbentuk lonjong dengan diameter 11-14ยตm, memiliki inti dengan ratio volume sel dan inti adalah 3,5-4,0.
Pada ikan teleost, jumlah normal eritrosit adalah 1,05×106 – 3,0×106 sel/mm3 (Robert, 1978 dalam Mulyani, 2006). Seperti halnya pada hematokrit, kadar eritrosit yang rendah menunjukkan terjadinya anemia. Sedangkan kadar tinggi menandakan bahwa ikan dalam keadaan stress (Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Purwanto, 2006).
Dalam darah, selain terdapat sel darah merah, juga terdapat sel darah putih (leukosit). Ikan memiliki sel-sel darah putih yang lebih banyak disbanding manusia. Mulcahy (1970 dalam Satchell 1991) mengemukakan, dalam darah pike terdapat 137.000/mm³-798.000/mm³ sel darah Putih. Leukosit ikan, terdiri atas tujuh bentuk, yakni tiga tipe eosinofil granulosit dan masing-masing satu tipe neutrofil granulosit, limposit, monosit dan trombosit. ( Yushinta Fujaya,2004)
Weber & de Beaufort (1965) menyatakan bahwa ikan lele dumbo termasuk dalam Phylum : Chordata, sub phylum : vertebrata, kelas : Pisces, sub kelas : Teleostei, ordo : Ostariophysi, sub ordo : Siluroidae, family : Clariidae, genus : Clairias dan Spesies : Clarias gariepinus.
Berdasarkan macam makanannya, ikan dapat kita bedakan menjadi lima macam golongan yaitu pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivor atau vegetaris, pemakan hewan (karnivor), pemakan tumbuhan dan hewan (omnivor), pemakan plankton dan detritus (hancuran bahan organic) dan pemakan dasar (Effendi 1997 dan  Pulungan, Putra, Efriyeldi dan  Efizon, 2001).
Rongga mulut pada ikan lele diselaputi sel-sel penghasil lendir yang mempermudah jalannnya makanan ke segmen berikutnya, juga terdapat organ pengecap yang berfungsi menyeleksi makanan. Faring pada ikan (filter feeder) berfungsi untuk menyaring makanan, karena insang mengarah pada faring maka material bukan makanan akan dibuang melalui celah insang (Fujaya, 2002).
Ikan lele bersifat nokturnal artinya ikan ini aktif dimaam hari dan menyukai daerah yang gelap. Pada siang hari ikan lele lebih suka berdiam diri di dalam lubang-lubang atau tempat yang tenang dan aliran air tidak terlalu tenang.(rachmatun suyanto.2008).


 III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada hari jumat tanggal 27 April 2012, jam 08.00-10.00 wib. Tempat praktikum di Laboratorium Biologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru.

3.2. Bahan dan Alat
Adapun Bahan yang diperlukan untuk praktikum ini adalah darah ikan, larutan pengencer hayem dan turk.
Dan alat yang di gunakan pada praktikum ini adalah  mikroskop, test tube, alat penusuk yang disteril, counter, bahan-bahan desinfektan, haemocytometer, kertas saring dan kapas.

3.3. Metode Praktikum.
Metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah metode pengamatan secara langsung terhadap objek yang di praktikumkan. Sehingga data dan informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh secara langsung.

3.4. Prosedur Praktikum
·      Percobaan 1.
Ambillah darah ikan dari stock darah yang ada. Isaplah darah tersebut menggunakan pipet batu merah sampai strip 0,5. Usahakan bekerja secepat mungkin, dan hati-hati jangan sampai darah membeku. Setelah itu isaplah larutan hayem sampai strip 101. Pengenceran yang dilakukan adalah 200 kali. Pegang kedua ujung pipet dengan jari jempol dan jari telunjuk atau jari tengah dan kocoklah/goyangkan pipet tersebut dengan gerakan seperti membentuk angka delapan, agar larutan bercampur dengan darah secara merata. Ambillah kamar hitung burker lengkap dengan cover glassnya. Buanglah 1 tetes darah dan kemudian tetesan berikutnya diteteskan kedalam kamar hitung untuk pemeriksaan selanjutnya. Lihatlah dibawah mikroskop, terdapat butir-butir darah merah dalam kotak-kotak besar dan kotak-kotak kecil. Dalam 1 kotak besar terdapat 16 kotak kecil. Hitunglah sel-sel darah yang terdapat dalam 80 kotak kecil.
·      Percobaan 2.
            Ambillah darah ikan dari stok darah yang ada. Isaplah darah tersebut menggunakan pipet batu merah sampai strip 0,5. Usahakan bekerja sangat cepat, dan hati-hati jangan sampai darah membeku. Setelah itu isaplah larutan turk sampai strip 101,berarti pengencerannya 200 kali. Pegang kedua ujung pipet dengan jari dan kocoklah/goyangkan pipet tersebut dengan gerakan seperti membentuk angka delapan, agar larutan bercampur dengan darah secara merata. Ambillah kamar hitung burker lengkap dengan cover glassnya. Buanglah 1 tetes darah dan kemudian tetesan berikutnya diteteskan kedalam kamar hitung untuk pemeriksaan selanjutnya. Lihatlah dibawah mikroskop, saudara akan melihat butir-butir darah putih dalam kotak-kotak besar dan kotak-kotak kecil. Hitunglah sel-sel darah putih yang terdapat dalam 4 kotak besar ( kotak-kotak yang dibatasi oleh 3 garis halus ).


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Darah ikan yang diamati berasal dari tubuh ikan Lele dumbo (Clarias bratachus) yang masih hidup. Dengan mengikuti prosedur praktikum yang telah ditetapkan maka didapatkan hasil sebagai berikut.





Gambar 1. Contoh Sebaran Sel darah Merah dalam Kamar Hitung






Gambar 2. Contoh Sebaran Sel darah Putih dalam Kamar Hitung
            Dari hasil perhitungan sel darah diatas maka di dapatkan :
·         Jumlah Sel darah Merah = 3040 x 104 = 30.400.000
·         Jumlah Sel darah Putih =  52 x 500 = 26.000


 4.2. Pembahasan
Jumlah sel darah merah yang telah dihitung ternyata kelebihan dari jumlah sel darah merah yang ada di buku penuntun, yang mana di buku  jumlah sel darah merahnya sekitar 2-3 juta sel/ml tetapi hasil yang kami dapat  ± 30 juta. Sedangkan jumlah sel darah Putih tidak beda jauh dari buku, hasil yang kami dapat 26000.
Eritrosit (sel darah merah) merupakan sel yang paling banyak jumlahnya. Inti sel eritrosit terletak sentral dengan sitoplasma dan akan terlihat jernih kebiruan dengan pewarnaan Giemsa (Chinabut et al., 1991 dalam Mulyani, 2006). Pada ikan teleost, jumlah normal eritrosit adalah 1,05×106 – 3,0×106 sel/mm3 (Robert, 1978 dalam Mulyani, 2006). Seperti halnya pada hematokrit, kadar eritrosit yang rendah menunjukkan terjadinya anemia. Sedangkan kadar tinggi menandakan bahwa ikan dalam keadaan stress (Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Purwanto, 2006).
Larutan hayem berfungsi untuk menghitung sel darah merah dan menghancurkan sel darah putih, sedangkan truck berfungsi untuk menghitung sel darah putih dan menghancurkan sel darah merah. Yang dimaksud Haemocytometer yaitu alat yang berguna untuk menghitung sel darah merah dan sel darah putih. Tujuan dari 200 kali untuk pengenceran sel darah putih dan akan menghancurkan sel darah merah. Batu merah berfungsi untuk pengenceran 200 kali, sedangkan Batu putih berfungsi untuk pengenceran 20 kali.

 
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
            Jumlah sel darah merah yang di teliti lebih dari 2-3 juta sel/ml, sedangkan jumlah sel darah putih sekitar 200.000-300.000 sel/ml. Jumlah sel darah putih pada ikan yang hidup didaerah subtropis, yaitu sekitar 150.000 sel/ml.

5.2. Saran
Khusus untuk praktikum perhitungan sel darah, saya harap para praktikan agar lebih hati-hati lagi  dalam  menghitung sel darah merah ataupun sel darah putih agar tidak terjadi lagi kesalahan dalam menghitung sel darah tersebut. Bagaimanapun juga, peralatannya sudah lengkap dan asistennya pun sudah cukup memberikan penjelasan yang dapat dimengerti.          

DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Y. 2003. Menghasilkan Pakan Alami Untuk Ikan Hias. Agromedia Pustaka. Jakarta. 76 halaman.
Fujaya, Y. 2002. Fisiologi Ikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Nasional, Makasar.
Sayuti. 2003.  Budidaya Koki Pengalaman dari Tulungagung. Agromedia Pustaka. Jakarta. 95 hal.
Fujaya, Yushinta. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka Cipta: Jakarta.179 hal.
Mudjiman, A. 2001. Makanan ikan dan sistem darah. Cet. Ke – 15. PT. Penebar swadaya. Jakarta. 190 hal.
Mulyani.2006. Darah ikan. Maswira.wordpress.com
Purwantoro.2006. Darah ikan.Maswira.wordpress.com
Pulungan, C. P., Windarti, Lukkystiowati, Iesje. 2005. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru. 23 Halaman (tidak diterbitkan).e
Satchell,GH.1991.Physiology and Form of Fish Circulation. Cambridge University Press. 235 hlm.
Sulistio.2001.Osmoregulasi,ikan uji.ikan nila dan ikan mas.jlcome.blogspot.com

I. PENDAHULUAN


1.1. Latar belakang

Fisiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari segala proses yang berlangsung dalam tubuh makhluk hidup, baik organism bersel satu tunggal maupun bersel banyak, baik energetic maupun metabolik. Secara terminologis istilah fisiologi berasal dari kata bahasa Yunani yaitu physis (alam, pekerjaan, atau sifat) dan logos (cerita atau ilmu). Jadi, secara garis besar fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup. Pada ilmu fisiologi ikan, yang dipelajari hanyalah masalah fisiologi pada ikan, tetapi untuk mempermudah dalam pemahaman, proses fisiologi yang tejadi pada makhluk lain seperti manusia serta vertebrata yang lainnya akan digunakan sebagai pembanding. (Windarti et al, 2012)
                  Menurut Windarti et al (2010) menyatakan fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem saraf, sistem endokrin dan reproduksi. Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh.
            Pengetahuan terhadap anatomi (anatomi macroskopik dan mikroskopik) dan fisiologi tubuh akan sangat membantu dalam pemahaman pato fisiologi serta dalam diagnosa dan penanganan penyakit (BBL Lampung, 2000). 
            Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair. Darah terdiri dari sel-sel (frakmen-frakmen sel) yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat seperti air. Sel-sel dan frakmen-frakmen sel merupakan unsur-unsur darah. Sel-sel ini cukup besar sehingga dapat diamati dengan mikroskop biasa. Pada dasarnya sel-sel darah dapat dibagi atas tiga unsur erytrosit, leukosit dan trombosit. Diantara tipe tersebut, sel-sel darah merah merupakan yang paling banyak jumlahnya (Raharjo, 1980).

1.2. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dari praktikum ini bertujuan untuk melihat/mengamati rupa darah makroskopis dan mikroskopis sebelum dan sesudah haemolisis, mengetahui jenis-jenis darah dan menentukan tahanan osmotik sel-sel darah merah pada ikan mas (Cyprinus carpio) sebagai ikan sample.
Sedangkan manfaat praktikum ini dapat memberikan informasi bentuk-bentuk dan fenomena yang terjadi pada sel-sel darah merah pada ikan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


            Ikan Mas (Cyprinus carpio) termasuk kedalam kelas Pisces, ordo Ostariophysi, sub ordo Cyprynoidea, famili Cyprinidae, genus Cyprinus, spesies Cyprinus carpio. Ikan ini berasal dari Cina kemudian disebarkan ke Eropah dan negara – negara di Asia Timur dan Selatan pada abad pertengahan. Sekarang penyebarannya merata di seluruh dunia baik sebagai ikan liar maupun sebagai ikan kultur. (Susanto, 1996).
Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair. Darah terdiri dari sel-sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat seperti air, ialah plasma. Osmosis adalah perpindahan molekul air dari larutan yang berkonsentrasi air tinggi ke larutan yang berkonsentrasi air rendah melalui selaput semi permeable atau selektif semi permeable. (Syamsuri, 2003).    
Komposisi elektrolit dalam sel darah merah kualitatif sama dengan yang terdapat dalam plasma, hanya kuantitatifnya ada perbedaan Tekanan osmosis didalam sel sama dengan tekanan osmosis larutan 0,9 % NaCl dalam air. Apabila terjadi perubahan tekanan osmosis pada larutan diluar sel darah merah akan berpengaruh terhadap besarnya sel tersebut. Larutan yang hipotonik menyebabkan air masuk kedalam sel dan sel akan bertambah besar kemudian pecah dan haemoglobin keluar dari sel, roses ini disebut haemolisis. Sebaliknya apabila larutan sekeliling sel hipertonis, maka air dari dalam sel akan keluar sehingga sel mengecil (mengkerut). Tetapi proses haemolisis dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain misalnya ada pelarut lain seperti eter dan kloioform. (Poedjiadi,1994)
Cairan plasma ikan mas (Cyprinus carpio) terdiri atas 98,5 % air dan 58 % bahan kering organik serta 42 % bahan kering abu. Dalam seminal plasma ikan mas terdapat 1,18 g/l Natrium (Na); 1,7 g/l Kalium (K); 28,5 % mg/l Kalsium (Ca); 6,5 mg/l ditambahkan lagi seminal plasma ikan mas mempunyai tekanan osmotik sebesar 286 miliosmole/kg dan pH 7,96 (Ploidy dan Billard dalam Masrizal, 1991).
Menurut Lehninger (1994) menyatakan suatu larutan 0,1 m NaCl yang sempurna berdisoasi menjadi Na+ dan Cl- yang akan membeku pada -0,3720 C karena larutan ini mengandung dua kali lebnih banyak partikel terlarut atau liton dibandingkan larutan 0,100 m glukosa.

III. BAHAN DAN METODE



3.1  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 20 April 2012 pukul 08.00- 09.40 WIB di Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu ikan Mas (Cyprinus carpio) yang diambil darahnya, aquades, EDTA / heparin, pewarna Giemsa, Ethanol  dan NaCl 3%.
Alat-alat yang digunakan adalah jarum suntik untuk mengambil darah, tabung reaksi sebagai wadah darah yang telah diambil, objek glass, cover glass, mikroskop untuk mengamati preparat darah, pipet tetes untuk mengambil larutan, baki untuk tempat ikan, tissue dan serbet sebagai lap serta alat tulis untuk mencatat.

3.3 Metode Praktikum

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah pengamatan langsung dengan cara makroskopis dan mikroskopis.

3.4 Prosedur Praktikum

·         Cara Mengambil Darah Ikan
1.      Ikan dibius dengan minyak cengkeh secukupnya (sekitar 5 tetes / liter) sampai pingsan.
2.      Jarum suntik dan spuit dibasahi dengan EDTA 10 % untuk mencegah pembekuan darah.
3.      Darah ikan diambil melalui vena caudalis. Darah dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah dibasahi EDTA 10 %.
·       Menyiapkan sampel darah ikan untuk proses haemolisis
1.      Ambil 3 buah tabung reksi dan diberi label A, B dan C. Kemudian, ke dalam tiap-tiap tabung masukkan 1 cc darah ikan. Pada tabung A, tambahkan 1 cc aquades. Pada tabung B masukkan 1 cc NaCl 3 % dan darah pada tabung C dibiarkan seperti semula atau tidak ditambah apa-apa. Tabung dikocok, lalu dibiarkan selama 5 menit.
2.        Buatlah preparat ulas / usap darah dari darah yang sudah diperlakukan tersebut. Dari setiap tabung, ambil 1 tetes darah, teteskan pada bagian ujung dari objek glass. Kemudian ambil objek glass lain, sentuhkan salah satu ujungnya pada tetesan darah tersebut dan geser sepanjang objek glass (objek glass untuk menggeser darah dalam posisi sudut 450 terhadap objek glass tempat darah diteteskan).  Untuk lebih jelasnya lihatlah gamabar di bawah ini:
3.        Angkat objek glass dengan ulasan darah tersebut dan terawang pada cahaya datang (dasar hitam) dan cahaya tembus (dasar putih). Amati dengan menggunakan mikroskop.
4.        Darah pada tabung A ditambah lagi dengan 1 cc larutan NaCl 3 %. Darah pada tabung B ditambah dengan 1 cc aquades. Perhatikan apakah sifat tembus cahaya pada darah di tabung A dan B juga sama. Untuk lebih jelasnya, buatlah preparat ulas atau usap dari tabung A dan B ini kemudian diamat di bawah mikroskop.
·       Pembuatan sampel untuk pengamatan jenis-jenis darah
1.        Buatlah preparat ulas darah dari darah ikan yang murni (tidak ditambah NaCl maupun aquades.
2.        Preparat di keringkan selama 5 menit.
3.        Preparat dicelup pada ethanol murni dan dikeringkan sekitar 5 menit.
4.        Preparat dicelup dalam larutan Giemsa dan dikeringkan selama 5 menit.
5.        Preparat dicuci dengan air bersih dengan cara dicelup-celupkan ke dalam air sampai kelebihan pewarna Giemsa bersih.
6.        Preparat dekeringkan lagi dan siap diamati dibawah mikroskop.
7.        Gambarlah bentuk-bentuk sel darah merah dan putih. Amatilah bentuk inti serta kondisi sitoplasmanya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan dan percobaan yang dilakukan diperoleh suatu hasil yaitu darah setelah ditambahkan aquades sel-sel darah merahnya mengembang dan warnanya merah pekat. Sedangkan darah setelah ditambahkan larutan NaCl sel-sel darahnya sel-sel darahnya mengkerut, dan tembus cahaya, dan warnanya merah kurang pekat. Untuk darah yang dijadikan sebagai kontrol bentuk sel-sel darahnya normal.
Hasil pengamatan 1 cc darah ikan + 1 cc aquades + 1 cc NaCl 3 % adalah darah kembali normal. Hasil pengamatan 1 cc darah ikan + 1cc NaCl 3 % + 1 cc aquades adalah darah kembali normal. Berikut adalah rupa darah yang diamati dengan menggunakan preparat ulas darah dibawah mikroskop:


 



Gambar 1. Rupa darah  kontrol


Gambar 2. Rupa darah setelah ditambah 1 cc aquades


 


Gambar 3. Rupa darah setelah ditambah 1 cc NaCl 3 %



Gambar 4. Rupa darah setelah ditambah 1 cc aqudes dan 1 cc NaCl 3 %


Gambar 5. Rupa darah setelah ditambah 1 cc NaCl  dan aquades



Gambar 6. Rupa darah setelah ditambah etanol dan giemsa
Hasil pengamatan 9 buah tabung yang berisi Larutan NaCl ( 0%; 0,3%; 0,5%; 0,6%; 0,7%; 0,8%; 0,9%; 1%; 3%) + 10 tetes darah setiap tabung  sebagai berikut : Larutan NaCl 0.3% + 10 tetes darah, darahnya mengumpal dan tembus cahaya. Larutan NaCl 0,5% + 10 tetes darah, darahnya kurang cerah dan sedikit mengumpal. Larutan NaCl 0,6% + 10 tetes darah, darahnya agak kental. Larutan NaCl 0,7% + 10 tetes darah, darahnya agak cerah dan mengumpal. Larutan NaCl 0,8% + 10 tetes darah, darahnya tembus cahaya dan cerah.larutan NaCl 0,9% + 10 tetes darah, darahnya tidak tembus cahaya dan sedikit mengumpal. Larutan NaCl 1% + 10 tetes darah, darahnya tembus cahaya. Larutan NaCl 3% + 10 tetes darah, darahnya tidaj tembus cahaya dan lebih padat. Larutan NaCl 0% sebagai control.

4.2. Pembahasan

Darah biasa tidak tembus cahaya, hal ini disebabkan karena sifat-sifat optik eritrosit yang terdapat dalam darah. Jika sel-sel ini dlarutkan dalam suatu cairan yang bebeda konsentrasi garamnya atau jika sel-sel ini membengkak karena proses difusi atau osmosa. Maka haemoglobin akan lepas dan darah menjadi tembus cahaya. Darah yang tidak tembus cahaya mempunyai sifat seperti cat penutup, sedangkan darah yang tembus cahaya mempunyai sifat seperti cat lak (pernis). Suatu larutan garam yang pekat akan meyebabkan butir-butir darah mengisut, sehingga konsentrasi haemoglobin meningkat dan sifat darah yang seperti cat penutup itu bertambah kuat.
Menurut Mudjiman (2001) menyatakan eritrosit (sel darah merah) ikan berinti, bewarna merah kekuningan. Erotrosit dewasa berbentuk lonjong, kecil dan berdiameter 7-36 mikron bergantung kepada spesies ikannya.  
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah.
Komposisi elektrolit dalam sel darah merah kualitatif sama dengan yang terdapat dalam plasma, hanya kuantitatifnya ada perbedaan Tekanan osmosis didalam sel sama dengan tekanan osmosis larutan 0,9 % NaCl dalam air. Apabila terjadi perubahan tekanan osmosis pada larutan diluar sel darah merah akan berpengaruh terhadap besarnya sel tersebut. Larutan yang hipotonik menyebabkan air masuk kedalam sel dan sel akan bertambah besar kemudian pecah dan haemoglobin keluar dari sel, roses ini disebut haemolisis. Sebaliknya apabila larutan sekeliling sel hipertonis, maka air dari dalam sel akan keluar sehingga sel mengecil (mengkerut). Tetapi proses haemolisis dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain misalnya ada pelarut lain seperti eter dan kloioform. (Poedjiadi, 1994).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan

            Darah akan mengembang bila diberi aquades tetapi bila darah diberi larutan NaCl maka darah mengkerut dan tembus cahaya disebabkan karena bila semakin banyak larutan yang diberikan maka darah akan semakin mengisut sehingga darah akan semakin tidak tembus cahaya maka bentuknya menyatu dan akan sangat rapat bila dibandingkan dengan yang diberi aquades yang hanya tampak sebagian.

5.2. Saran

            Pada waktu praktikum terdapat kesulitan pada saat mengambil darah dari tubuh ikan. Sebaiknya untuk selanjutnya diberikan contoh dan diberi tahu dimana saja  aliran darah yang terdapat pada ikan agar praktikan tidak asal menyuntik tubuh ikan.

Senin, 02 April 2012


EMPIRICAL MODELING OF APHYTOPLANKTON GROWTH AND OXYGEN PRODUCTION IN AQUACULTURE
Claude E. Boyd
·      Phytoplankton growth in aquaculture ponds is regulated in freshwater primarily by phosphorus concentration, but in brakishwater both nitrogen and phosphorus concentrations often limit abundance of phytoplankton. Abudance of phytoplankton and production of aquacultural species can be enhanced by fertilization or manuring. Even greater production of aquacultural species can be achieved through feed applications.  Phytoplankton abundance in ponds with feeding increases as feeding rates are raised. Dissolved oxygen (DO) dynamics in ponds are regulated primarily by phytoplankton abundance. As phytoplankton density increases, a pronounced vertical stratification of DO concentration develops and DO exhibits a strong daily cycle with the highest concentration in the afternoon and the lowest concentration around dawn.
·      Problem with low DO during the night increase in frequency and severity as feeding rates are elevated. Cloudy weather and phytoplankton die-offs also may cause DO depletion in ponds. Computer simulation techniques for predicting DO concentrations in ponds are available, but these methods require data that often are not easily available to pond managers. A simple projection technique for extrapolating DO concentrations measured early in the night to provide a forecast of DO concentration later in the night is popular with pond managers. Aeration is the only reliable means of combating DO depletion.

IKAN TENGGIRI (Scomberomorus commerson)


*   Klasifikasi
                                           Kingdom         : Animalia
                                           Phylum            : Chordata
                                           Class                : Actinopterygii
                                           Ordo                : Perciformes
                                           Famili              : Scombridae
                                       Subfamily        : Scombrinae
                                   Genus               : Scomberomorus
                                   Species             : Scomberomorus commerson
*   Deskripsi
Ikan tenggiri tergolong kedalam famili Scombridae yang mempunyai bentuk memanjang, daging kulit yang licin, tidak bersisik kecuali sisik-sisk pada gurat sisi yang kecil-kecil, sirip pungung ada dua, letaknya berdekatan sekali yang depan disokong oleh jari-jari keras yang lemah sebanyak 16-17 buah, yang belakang disokomg oleh 3-4 jari-jari keras dan 13-14 jari-jari lunak. Sirip dubur sama besar nya dengan sirip punggung yang belakang, dan disebelah belakangnya terdapat sirip-sirip tambahan sebanyak 9-10 buah, sama seperti pada sirp punggung. Sirip ekor cagak dua berlekuk dalam dengan kedua ujung sirip-siripnya yang panjang. Mulut nya lebar, rahang atas dan rahang bawah begerigi tajam dan kuat, langit-langit bergigi kecil-kecil. Warna punggungnya kebiru-biruan, pinggiran tubuh dan perut beawarna seperti perak. Jenis ikan ini tergolong pada ikan yang besar, panjang tubuhnya dapat sampai 150 cm (Djuhanda, 1981). Secara fisik ikan tenggiri mempunyai dua jenis daging yaitu daging merah (gelap) dan daging putih (terang), sedangkan secara kimia daging merah banyak mengandung lemak, glikogen dan vitamin dan untuk daging putih banyak terdapat protein.

BIODATA

NAMA           : ANZILA RIZKI WAHYU MUHARRAMA
NIM                : 1004114478
JURUSAN     : BUDIDAYA PERAIRAN







Sumber :  
·         Collette, B.B. 1986 Scombridae. p. 831-838. In M.M. Smith and P.C. Heemstra (eds.) Smiths' sea fishes. Springer-Verlag, Berlin.
·         Collette, B.B. and C.E. Nauen 1983 FAO Species Catalogue. Vol. 2. Scombrids of the world. An annotated and illustrated catalogue of tunas, mackerels, bonitos and related species  known to date. FAO Fish. Synop. 125(2):137p. Rome: FAO.

Minggu, 01 April 2012


Nekton sebagai mahkluk makroskopik di perairan baik di air tawar maupun air laut, jenis-jenisnya dapat diklasifikasikan untuk mempermudah pengenalannya. Untuk nekton laut, secara umum dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kelas :
  1.    Kelas Vertebrata, merupakan nekton bertulang belakang, jumlahnya besar, nekton-nekton tersebut mempunyai tulang keras dan tulang rawan.
  2.     Kelas Moluska, merupakan nekton lunak seperti gurita, cumi-cumi dan kerang.
  3.     Kelas Crustacea, adalah nekton yang mempunyai cangkang atau kulitnya keras, contohnya lobster dan kepiting.
Nekton seperti ikan yang berkelompok dapat diklasifikasikan dalam 2 golongan yaitu Golongan Holoepipelagik dan Golongan Meroepilagik. Penjelasan klasifikasi jenis mengenai Kelompok Holoepipelagik dan Meroepilagik dapat dilihat dibawah ini :
  •     Golongan Holoepipelagik
Holoepipelagik adalah golongan ikan yang menghabiskan seluruh waktunya di daerah epipelagik. Kelompok ikan ini mencakup ikan-ikan hiu tertentu (cucut,martil, hiu mackerel, cucut biru), kebanyakan ikan terbang, tuna, setuhuk, cucut gergaji, lemuru, ikan dayung, dan lain-lain.
  •     Golongan Meroepilagik
Meroepipelagik adalah golongan ikan yang menghabiskan sebagian waktu hidupnya di daerah epipelagik. Meropelagik dapat dibagi lagi berdasarkan pola hidup masing-masing organisme, diantaranya :
  1.     Kelompok Organisme yang menghabiskan sebagian waktu hidupnya di daerah epipelagik, kelompok ini beragam dan mencakup ikan yang menghabiskan masa dewasanya di epipelagik tetapi memijah di daerah pantai.
  2.     Kelompok Organisme yang hanya memasuki daerah epipelagik pada waktu-waktu tertentu, seperti ikan perairan-dalam semacam ikan lentera yang bermigrasi ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan.
  3.    Kelompok Organisme yang menghabiskan awal daur hidupnya di epipelagik, tetapi masa dewasanya di daerah lain.